Jatim Park, Batu

Sebenarnya ada satu cerita yang tersisa dari kepergian saya ke Malang beberapa waktu lalu. Dikarenakan alasan klasik kesibukan, maka cerita itu baru bisa tersampaikan sekarang. 

Saat saya berada di Malang, dengan sangat menyesal mas Ivan, selaku tuan rumah, meminta maaf karena tidak dapat menemani saya jalan-jalan hari Sabtu itu. Dia harus ke kantor untuk interview calon karyawan baru. Saya pun tidak begitu keberatan, karena kedatangan saya pun pada intinya hanya untuk bertemu dan ngobrol dengan beliau, dan saya masih punya banyak waktu.

Pagi hari itu saya pergi ke Malang Town Square (terkenal dengan singkatan MaToS) untuk membayar tiket Sancaka saya. Usai dari situ muncul kebingungan, bagaimana menghabiskan siang. Ada teman menawarkan untuk nonton Avengers bareng pacarnya, tapi saya menolak. Yang saya ketahui Malang terkenal dengan wisata Batunya. Iseng saya mencoba browsing bagaimana caranya saya bisa ke Batu.

Saya pikir jarak Malang - Batu macam Jakarta - Puncak. Tapi setelah browsing, ternyata caranya super gampang dan gak terlalu lama. Dari Arjosari naik angkutan umum ke terminal Landungsari. Lucunya di Malang ini angkotnya tanpa nomor, tapi menggunakan singkatan, macam ADL (Arjosari Dinoyo Landungsari), ABG (Arjosari Borobudur Gadang), GL (Gadang Landungsari). Bayar ongkosnya cukup 3000 rupiah saja.

Sampai di Landungsari, saya bertanya ke seorang pria di terminal, bagaimana caranya ke Batu. Pria itu malah balik bertanya, "Batunya dimana??". Bingung ditanya demikian, saya nyeletuk saja, "Jatim Park, Pak". Karena itu satu-satunya objek wisata di Batu yang pernah saya dengar. Itu pun dengarnya barusan, saat dalam perjalanan dari rumah mas Ivan ke MaToS.

"Ooh, naek angkot kuning itu aja. Langsung di depan Jatim Park," katanya sambil menunjuk angkot kuning dengan tulisan MDL. Saya sumringah dan enggan untuk menebak lagi apa singkatannya. Perjalanan dari Landungsari ke Batu memang cukup memakan waktu. Bukan karena jaraknya yang jauh, tapi lebih ke rute angkotnya yang muter-muter.

Sekitar 30 menit kemudian saya sudah sampai di Jatim Park 2. Cukup dengan 3000 rupiah saja. Konon ada pula Jatim Park 1. Tapi saya cukup puas sampai sini. Objek wisata ini menjual wisata fauna yang dinamakan Jatim Park Secret Zoo dan Museum Satwa. Untuk akhir pekan, Jatim Park Secret Zoo dibandrol seharga 75.000, sementara 20.000 Museum Satwa. Untuk tiket terusan ke 2 wahana itu, dapet diskon sebesar 5000 perak.

Secret Zoo menawarkan konsep kebun binatang yang cukup menarik dan interaktif. Ada beberapa hewan-hewan yang hanya kita ketahui melalui film-film kartun muncul di sini. Contohnya meerkat atau lemur. Mereka juga memasang papan-papan berupa pertanyaan-pertanyaan interaktif yang mencerdaskan. Di beberapa bagian, kita dapat berfoto bersama hewan-hewan yang ada.




Di akhir perjalanan menyusuri kebun binatang ini, para pengunjung akan disuguhi wahana-wahana yang akan menarik minat si kecil. Mulai dari permainan ketangkasan, mini tornado ala Dunia Fantasi, sampai rumah hantu yang tidak begitu seram. Terdapat pula beragam makanan yang harganya masih masuk akal menurut kantong warga Jakarta (walaupun saya sendiri memilih makan bakso malang di depan Jatim Park hehehe).


Jika Secret Zoo menampilkan fauna hidup, museum satwa menampilkan hewan-hewan yang dalam bentuk patung. Saya sendiri tidak sempat menanyaka apakah itu hewan asli yang dibalsem atau hewan yang dibuat replikanya. Yang jelas, tampilannya begitu mirip dan memukau. Ada fosil dinosasurus, beruang kutub, hingga manusia purba.





Untuk pengunjung dari luar kota, tersedia pula penginapan di objek wisata ini. Lucu deh, bentuknya seperti pohon raksasa.

Saya pribadi sangat terkesan dengan pengelolaan Jatim Park 2 ini. Seharusnya pengelolaan kebun binatang yang ada di setiap kota kota bisa mencontoh Jatim Park 2. Semoga lain kali masih ada waktu lagi untuk mencicipi wisata Malang lainnya.


By MoMo with 1 comment

27


Dunkin Donut Cik Di Tiro Jogjakarta, 7 Mei 2012

Saya sedang menunggu Mbak Wulan yang masih rapat. Kami berencana (tepatnya saya sih yang setengah memaksa) bertemu sebelum saya kembali ke Jakarta. Mbak Wulan adalah senior saya lainnya yang juga menjadi wakil kepala bagian di kantor wilayah kami di Jogja. Kami dulu berkerja di group yang sama. Parasnya ayu rupawan tapi semangatnya kuat bak binaragawan.



Saat menulis artikel ini sejujurnya saya sangat letih sekaligus kenyang. Saat saya bermaksud menemui mbak Wulan di kantornya, ternyata beliau masih rapat. Akhirnya saya  menepi di sini dengan sepotong donat dan mocha coolata. Padahal sebelumnya saya baru saja sarapan. Menjadi solo backpacker itu salah satu dukanya adalah ketika barang bawaan kamu sudah overload dan punggungmu teriak-teriak minta dikecup koyo. Saat libido belanja saya masih bergairah melihat barang-barang di Malioboro, supaya lebih nyaman, gembolan besar ini harus dititipkan terlebih dahulu. Maka menyantap nasi goreng dan es jeruk sebenarnya adalah #modus belaka supaya si Ibu mau dititipin tas hihihihihi.

Oh ya, bagaimana perjalanan saya menuju Jogja?

Kereta MALABAR (namanya terdengar cihui yah?), berangkat tanpa ingkar janji. Saya mendapat kelas bisnis yang mengingatkan saya pada masa-masa pulang kampung dengan kereta senja utama dulu. Di perjalanan, sang pramusaji secara lihainya menggoda saya lewat nasi dan mie goreng yang ngepul dan wangi. Niat saya saat itu mencicipi nasi pecel atau rames yang dulu sering dijual saat kereta singgah di suatu stasiun.  

Satu stasiun lewat, tidak ada yang jual...
Dua stasiun lewat, tidak ada…
Tiga stasiun, “Mas mie gorengnya satu deh,”

Usai saya menyantap mie goreng kereta, di Kertosono para pedagang beramai-ramai berteriak “Nasi pecelnya!! Nasi rames!!” GAH.

Pukul 23.45 kereta berhenti di Jogjakarta. Sebenarnya banyak referensi tempat menginap yang tersedia. Mbak Wulan, Nicky (junior saya di kantor), atau Mas Adi (keponakan ex bos). Tapi manalah saya tega ngetok rumah orang jam segitu, untuk kemudian keluar lagi di subuh buta?? Maka saya lebih memilih untuk merasakan dinginnya kursi peron stasiun tugu setelah sebelumnya saya supper nasi rames isi gudeg (tetep penasaran bok!)

Dalam suasana seperti itulah saya merasakan sepi. Jauh dari keluarga, teman, ataupun kenalan. Percaya atau tidak, baru saat itu saya mengamati semua list avatar teman-teman saya di BBM. Beruntungnya ada satu atau dua teman chat yang bisa saya ajak bicara, sesuatu yang sering saya lupakan karena kesibukan.

Pukul 03.00 dini hari, udara dingin menusuk kulit. Saya sudah berada di sepeda motor menuju Magelang dengan kecepatan angin kinton. Inilah sebenarnya tujuan pamungkas saya, yang tidak saya ceritakan di awal mula. Saya ingin menikmati matahari terbit di tempat yang tak biasa untuk hari yang tak biasa. Dimana doa-doa dan impian diharapkan akan terjadi, seperti mitos memegang Buddha dalam stupa candi.  Di kala keinginan untuk menjadi sukses dan menginspirasi, seperti halnya sang penemu, Rafless.



Di saat sang surya menyingsing di ufuk timur, saya tersenyum bersyukur, masih diberi umur…..

By MoMo with No comments

26


Tourist s don’t know where they’ve been.
Travelers don’t know where they’re going – Paul Theroux

Perumahan Belimbing Indah, Malang, 5 Mei 2012.

Pagi ini saya terdampar di sini, bersauh tepatnya, setelah nyaris 12 jam menghabiskan waktu di perjalanan antara Denpasar – Malang. Sudah lama saya tidak menghabiskan malam di atas bus. Perjalanan panjang terakhir hanya sebatas Solo – Jakarta dengan kereta api cepat.  Rasanya menarik, melaju cepat di gelapnya malam, dengan rentetan tembakan cahaya kuning dan merah yang berasal dari lampu dan rem kendaraan.

“Nanti sampai Malang terus gimana? Mau ngapain?” begitu pertanyaan hati kecil saat terombang-ambing di Selat Bali.

Jawabannya pun butuh waktu lama, hingga akhirnya saya jawab. “Gak tau,”

Yang saya tau bahwa saya harus berada Jogja pada hari Senin karena saya sudah pesan tiket pesawat pulang dari sana. Selebihnya, fleksibel, mengikuti nasib dan kemana hati melangkah. Awalnya saya berencana berangkat ke Malang pada Sabtu pagi. Kemudian mas Arieq, rekan kerja saya di Denpasar, kebetulan akan pulang ke Situbondo pada Jumat malam dan mengajak saya menuju Malang bersama. Hingga akhirnya, pagi ini saya sudah leyeh-leyeh di rumah Mas Ivan yang sejuk.

Stasiun Malang, 6 Mei 2012

Mas Ivan adalah senior saya di kantor. Awal kerjasama kami dimulai saat melakukan implementasi sebuah sistem di sebuah bank di Kuala Lumpur. Sikap dan etos kerjanya membuat saya menaruh hormat pada beliau. Saat ini Mas Ivan menjadi wakil kepala bagian di kantor wilayah kami di Malang. Sepanjang hari kami banyak bercerita, eh sebetulnya banyak saya sih yang mendengar. Banyak cerita menarik yang diperoleh darinya, sebagian besar tentang suka dan duka bekerja sebagai orang-orang di wilayah, bukan kantor pusat. Saya menginap sehari di rumahnya. Keluarganya sangat ramah sekali terhadap mahluk antah berantah yang numpang tidur di rumahnya ini. Mas Ivan juga punya jagoan bernama Akhdan yang pintarnya luar biasa. Ah, ingin rasanya punya keluarga seperti itu (bukan #kode).

“Ibu, itu temennya bapak kok ga pulang-pulang sih..??”
“…..”



Kemarin pagi saya sudah memesan tiket Sancaka jurusan Surabaya – Jogja. Rencananya jam 10.00 saya akan naik kereta ekonomi ke Surabaya kemudian pada pukul 15.00 berangkat ke Jogja. Tidak saya sadari rencana itu kemudian berubah  jadi bencana. Mas Ivan dan keluarga mengantarkan kepulangan saya ke stasiun. Setelah berdadah-bai-bai, saya pun menuju loket untuk membeli tiket ekonomi. Apa yang saya dapati di loketnya adalah :

“KA PENATARAN JURUSAN SURABAYA HABIS”

Setengah tak percaya saya tetap bertanya ke petugasnya. “Ekonomi, mbak??”
“Iya ini kereta ekonomi,”

Waduuh, saya pikir yang namanya kereta ekonomi itu adalah kereta yang tiketnya tinggal beli di saat keberangkatan dan bisa berdiri, macam KRL Jabodetabek. Ternyata ekonomi punya kuota juga. Dengan hati berdebar, saya menghampiri biro travel di samping stasiun. Apa daya ternyata keberangkatan ke Surabaya pun penuh. Ada apa ini dengan orang Malang mau pindah ke Surabaya??? Saya gak sadar, bahwa hari ini hari Minggu, dan banyak warga Malang yang bekerja di Surabaya menganut paham PJKA (Pulang Jumat Kembali Ahad). Saya memutuskan untuk menuju terminal Arjosari untuk mencari bis ke Surabaya.

Di dalam angkot menuju terminal pikiran saya terus bertanya-tanya. Kira-kira saya akan dapet bis kah? Jam berapa nanti saya akan tiba di Surabaya kalau naik bis? Saya akan turun di mana dan bagaimana saya harus mencapai stasiun Gubeng? Semuanya tidak dapat saya jawab dengan yakin. Alternatif lain muncul di depan mata.  Ada kereta dari Malang jurusan Bandung yang akan melewati Jogja pukul 23.00 nanti. Saya mencoba menelepon tiket kereta api, dan ada 4 kursi bisnis yang tersisa.

Di depan Politeknik Negeri Malang, di dalam ATM sebuah bank, dengan mengucap Basmallah, saya mengikuti kata hati saya yang lain...

Mungkin banyak pembaca (kayak ada aja :P) yang berpikir saya ini bodoh, nekat, miskalkulasi, dsb. Kejadian ini bisa dianggap sebagai latihan kecil dari bentuk rintangan yang menimpa diri di dalam kehidupan. Setiap orang punya cara sendiri-sendiri untuk mengatasinya. Dalam kasus ini, bisa dibilang saya menyelesaikannya dengan cost yang tidak murah.

Saat ini saya terduduk di sudut ruangan pemesanan tiket di stasiun Malang menunggu kereta MALABAR hingga pukul 15.30. Mau kembali ke rumah mas Ivan, rasanya sudah malu. Akan tetapi satu hal yang lebih penting adalah pikiran dan hati saya masih sibuk bertengkar. Mereka berdua sibuk untuk mencari pembenaran masing-masing. Dan saya, sulit untuk memaafkan diri sendiri…


 


By MoMo with No comments

House Of Sampoerna

Pertama-tama, nampaknya saya harus mengucapkan selamat melepas keperawanan untuk sahabat sejiwa, hai Cici Anggitha. Semoga perjalanan hidupnya bersama si kangmas dapat langgeng hingga kakek dan nenek.

NAH, sebagai seorang teman yang baik hati, tampan, dan juga tidak sombong, pagi hari saya sudah menjejakkan kaki di Surabaya demi menghadiri resepsi Cici. Resepsinya sendiri di Kediri, sementara saya dan sahabat lainnya sudah janjian akan berangkat dari kota pahlawan itu pada pukul 3 sore. Menyadari ada waktu luang, saya manfaatkanlah untuk mengunjungi objek wisata yang ada di Surabaya. Satu yang langsung muncul di kepala dan sudah lama saya impikan untuk mengunjunginya adalah House Of Sampoerna.

Bagi yang belum tau, House of Sampoerna itu semacam museum yang menceritakan mengenai bisnis perusahaan rokok terbesar di Indonesia. Siapa sangka cikal bakal pendiri Sampoerna, Liem Seng Tee, ternyata anak adopsi sebuah keluarga di Bojonegoro. Bersama istrinya, ia memiliki sebuah warung yang menjual bahan makanan pokok, yang akhirnya menjadi perusahaan besar yang menarik minat Philip Morris.


Untuk memasuki House Of Sampoerna ini gretong alias gratis. Hanya menuju ke tempat ini saja dari Bandara Juanda saya menghabiskan 110 ribu dengan taksi. Mungkin bisa lebih murah dengan moda lain. House of Sampoerna terdiri dari dua lantai. Lantai pertama mengisahkan perjalanan perusahaan pemilik produk berlogo 234 itu. Ada foto komisaris serta dewan direksi dari jaman dulu hingga saat ini.



Di lantai dua, kita bisa membeli cendera mata yang ada dan juga, yang paling menakjubkan, melihat proses pembuatan rokok. Dari lantai ini terlihat sebuah ruangan besar dengan ratusan pekerja yang sibuk melinting rokok satu per satu secara manual. Edun. Di jaman Ridho Rhoma nyambangin sevel kayak gini, masih ada proses yang sedemikian manual. Tapi lihatnya menarik sih. Para pekerja bersemangat Gerakannya cepat dan seragam, macam sendratari kolosal. Sayang ga boleh di foto.


Usai mengunjungi museum, sahabat saya masih belum juga datang menjemput. Karena waktu sudah siang dan naga-naga di tubuh saya belum diberi pakan, saya mampir ke cafe HoS yang ada persis di sebelah museum. Cafe ini menyediakan makanan western dan juga lokal. Harganya seperti cafe-cafe di Jakarta, dan rasanya biasa saja (untuk menu yang saya kunyah saat itu).


Oh ya, objek wisata House Of Sampoerna juga punya program Surabaya Heritage Track dimana kita bisa berkeliling Surabaya sambil memperoleh informasi mengenai jejak sejarah dan budaya yang ada di dalamnya. Jika bingung mau kemana ketika ada di Surabaya, opsi ini rasanya bisa jadi pilihan.

By MoMo with 3 comments

Her Saturday Night Scrabble(*)

Senin lalu, di saat melakukan ritual bakar menyan tengah malam, sahabat saya Cici Anggitha tiba-tiba mention dan melibatkan saya dalam sebuah percakapan yang tidak saya mengerti dengan sahabatnya yang bernama Reny Agustine. Usut par usut, ternyata Reny menantang kita membuat sebuah tulisan dari frase-frase yang diberikan oleh orang lain.

Adrenalin pun terpacu. Hingga akhirnya saya meminta frase-frase dari 9 orang yang khusus dipilih. Orang-orang ini merupakan sahabat yang masih cukup aktif dalam dunia per-blog-an. Sekalian aja lah sebagai bentuk penghargaan supaya mereka makin semangat dalam mengupdate blognya :D.

This is it (tm)! Selamat menikmati.

Hari masih gelap gulita di Minggu ketiga. Semua pengungi rumah susun masih terlelap sementara aku sudah bersiap. Tak pernah ada damai di wajah orang-orang yang disuruh kerja bakti. Sementara bagiku kegiatan ini ibadah spiritual yang menata hati. Damaiku pernah hilang sebelumnya. Sampai kau datang ke hadapan dengan raut bertanya-tanya. Wajah bulat simetris yang tersenyum manis. Hingga ku sulit menebak apakah yang di depanku ini malaikat ataukah seorang gadis.

Hari ini kutunggu kau di ujung tangga lantai dua. Tempat kita saling sapa, berbincang soal tetangga, ataupun mendengarkanmu menggosipi selebriti. Tapi cerita ini nampaknya akan berakhir makan hati. Saat kau perkenalkan pria tegap yang menggandengmu dengan mantap. Burung gereja yang hinggap pun langsung tau kalian suami istri. Hanya aku yang bodoh selama ini tak menyadari. Di saat cintaku padamu penuh dahaga, kau ternyata sudah berumah tangga.

Inilah cinta mati, inginku pasti. Hingga tua menjelang, tak akan ku jadi suami orang.


List frase:
1. Gelap Gulita : Arditya Wahyu Nugroho
2. Rumah Susun : Hari Saputra
3. Kerja Bakti : Mega Rachmani
4. Wajah Bulat : Uliy Robbayani
5. Makan Hati : Marlia Christianty
6. Suami Istri : Bhagas Arga Saputra
7. Rumah Tangga : Dikki Mahasati
8. Cinta Mati : Catur Adi Nugroho
9. Suami Orang : Adji Chyntia U

(*) Diambil dan diubah sedikit dari judul post Renny Agustine.


1. Picture's taken from www.proficientwriters.com


By MoMo with 1 comment

Random


Pada gemericik hujan yang berderap di pukul satu. Maunya itu beku. Karena di sela tetesan beningnya, ia ingin titipkan rasa.

Tetesan kecil membesar dan mencair. Saat menjumpai gadis yang menikmati angin bersemilir, ia pun tersihir. Lupa sudah tugasnya sebagai kurir.

"Hai nona dengan kesabaran baja. Buat apa kau menanti si tuan gila kerja? Lebih baik kau ikut aku saja. Mengarungi dunia bagai ratu dan raja,"

"Duhai air nan penuh gairah. Segala pikiranmu salah. Tidak kucintai tuan begitu sangat. Hanya dalam kesetiaan kucapai puncak nikmat,"

"Pergilah kau, aku tak mengapa. Biarkan aku menunggunya entah sampai senja keberapa,"

dikutip dari @bimown. 17 Feb 20011.



1. Gambar diambil dari quirkymon.blogspot.com

By MoMo with No comments

Tuhan, ia datang lagi

Tuhan, aku menghadap padaMu bukan hanya di saat-saat aku cinta padaMu, tapi juga di saat-saat aku tak cinta dan tidak mengerti tentang diriMu - Wahib

Tuhan, ia datang lagi
Kali ini tertawa di balik selimut putih
Kadang juga menatap melalui spion kemudi

Ia memiliki segudang kelebihan
Berbicara mengundang perhatian
Dan aku sang lemah iman
Terjerembab dalam kehampaan

Bersamanya aku merasa rendah diri
Meski seharusnya hanya padaMu lah ku merasa seperti teri
Kadang ingin aku teriak agar Kau puasi hati
Supaya setidaknya aku bisa mensyukuri

Padanya yang membuat pikiranku gemuruh dan napas menderu
Tuhanku, aku cemburu



[1] Photo's taken from chud.com

By MoMo with No comments

Berpikir Positif


Sebuah peristiwa baik, sesingkat apapun, mungkin sebaiknya dicatat. Selain (semoga) dapat menginspirasi orang lain, juga bisa menjadi pengingat bagi diri sendiri di kemudian hari.

Ceritanya klise. Saya punya rekan kantor, namanya Bayu. Kami kebetulan bersama memegang sebuah aplikasi "limpahan". Aplikasi itu tadinya menjadi tanggung jawab rekan kami yang lain, kemudian karena rekan tersebut pindah, aplikasi itu dialih tugaskan kepada orang lain, ya kami.

Beberapa hari lalu, kami mencoba mengakses aplikasi ini. Akan tetapi, kami tidak tahu bagaimana caranya kami mengaksesnya tanpa harus menggunakan aplikasi yang sudah terpasang di user. Saya pun membuka server database, berharapkan menemukan aplikasinya di sana.

Ternyata ada sebuah aplikasi di sana, tapi ketika kami coba ternyata aplikasi itu bukan yang kami maksud. Maka percakapan selanjutnya adalah seperti ini:


(Bimo)
Yaaah Bay, ternyata ini "monitor" bukan "viewer". Sia-sia deh..

(Bayu)
Ga papa mas, kan jadi nanti kalo ketemu user, udah tau bahwa aplikasi "monitor" ini ga bisa dipake buat cari message.

(Bimo)
Degg!! Aaaa Bayu!! Kamu berpikir positif sekaliiiii



Terima kasih ya Bayu, sudah memberikan inspirasi.. :D

I haven't failed, I've found 10,000 ways that don't work - Thomas Alfa Edison


1. photo's taken from : inspirative-blog.blogspot.com

By MoMo with 3 comments

Notes dari Disket 5.25

Sebelumnya owner mau ngucapin met tahun baru China. Semoga rejeki mengalir deras kayak air, asal mulut gak bau aja macam naga.

Liburan Xincia kemaren jadi libur panjang yang cukup garing. Pacar gak punya, duit ga punya. Yang bikin lebih merana lagi, AKU GA PUNYA PULSAAAA™. Jadi malem Minggu bikin saya manyun aja sendirian di rumah.

Kalo si Ernest kekunci di container nanya-nanya ide kreatif dari followernya, nah saya gak mau kalah untuk membangkitkan ide-ide kreatif dari dalam alam kubur isi kepala. Ubek-ubek isi perpustakaan, saya temukan, tarrraa... floppy disk 5.25".

Dengan semangat go green yang membara dan kebetulan ada sahabat yang berulang tahub, saya iseng mencoba membuat lagi notes dari dua lembar benda persegi ini. Cekidot gan!

Bahan:

  1. 2 lembar floppy disk ukuran 5.25". Supaya menarik pilih warna yang catchy seperti putih muda atau hitam tua.
  2. 2 buah ring. Bisa dibeli di toko buku. Saya sih mergokin nih barang di gramedia. Terus saya ciduk aja.
  3. Pembolong kertas yang bolongnya cuman 2 itu lho.
  4. Kertas bekas terpakai satu sisi. Harus bekas, kalo enggak mengurangi semangat recyclenya.
  5. Penggaris, pinsil, dan pemotong kertas/gunting.
  6. Baju dan celana. Takut lagi asik-asil buat, pak erte dateng. Kalo ngeliat saya tanpa sehelai benang, dikira kuda nil lepas dong.

Pembuatannya:
  1. Kertas bekas dipotong dengan ukuran 13 cm x 13 cm.
  2. Bolongkan kertas tepat di tengah menggunakan pembolong. Begitu pula dengan disketnya.
  3. Satukan mereka semua dengan 2 buah ring tersebut. Jadikan disket sebagai cover depan dan belakang dari notes kita.
  4. Lebih kreatif lagi, gunakan kertas yang lebih tebal dan print quote-quote motivasi di atasnya. Kemudian, jadikan sebagai pembatas antara halaman.


Voila! Siapa yang bilang susah? Hah? Hah? Dengan demikian kertas yang sudah terpakai itu masih bisa terpakai sekali lagi sebelum membuangnya.


Save our money, save the world!

ps: yang mau disket macam ini, bisa hubungin saya. banyak tuh di rumah ^^

By MoMo with 3 comments

Sewindu Berkata

Pagi ini saat terbangun dari tidur, saya mendapati dua email notifikasi dari blog ini masuk ke ponsel. Saya memang mengatur agar komentar baru akan langsung dinotifikasi. Komentarnya sih ga penting, bahkan cenderung spam, tapi yang menarik adalah...

Ini artikel kapan? Emang gw pernah nulis??

Selidik punya selidik, setelah mata bebas dari belek, ternyata yang dikomentarin adalah artikel yang saya tulis di tahun 2005. 3 tahun yang lalu, saat tampang saya masih unyu-unyunya. Saya pun penasaran, apa sih yang saya tulis?? Usai membacanya.....

Wuanjreet, ini nih tulisan gw? Alay banget!!!

Jadi sadar, blog ini sudah menemani saya selama sewindu. Memulai buat blog dari tutorialnya bang Enda, hingga ikut dalam hingar bingar blogger, lantas masih bertahan kala yang lain hijrah ke twitter. Gaya penulisan pun terlihat berubah, mulai dari yang aneh, unyuu, galau maksimal, hingga penuh kebajingan kebajikan.

Untuk semua rasa, gairah maupun gelisah. Untuk 500-an post yang bisa tertumpah. Terima kasih, blog, sudah mau menjadi telinga.





Dari manusia yang sewindu gemar berkata, sewindu bercerita.

By MoMo with 3 comments
  • Popular
  • Categories
  • Archives